Malam ajakku mengenang bayang dari wajah sayu yang mnyelinap diantara remang purnama Gerimis tlah jelmakan bayangannya teromabang ambaing dalam dingin udara, gigilnya menjalar hingga ke daun kepala Ini adalah ketololan yang lama ngendon di kepalaku, biang dari gelap yang menjalar liar,lebih pekat dari kopi, lebih hitam dari dosa palim kelam” demikian kata hatiku Lantas jernih embun menggumpal disudut mata, sempal menjadi tangis membelah sunyi jiwa
Dari kejauhan samudra jiwa, bibir pantai masih setia mengendus pasir letih lewat serpih serpih mata sedih yang mencaci nasibnya sendiri Gelombang anganan berlari lari kitari bukit bukit ditepi desa, pada bayangannya berguguran luka luka lama, mendebu kelam masa silam Dan terkulai di perut malam, menghitung tiap detik yang berlalu melumat waktu, pandangi sisa sisa hujan, yang hanyutkan kecewa hingga ke rahim samudra malam Hanyut hingga kedasranya yang paling biru, merengkuh hangat lentik jari ibu, rindu usapnya pungut segala luka
Luka yang bermula dari kesintingan hidup Luka yang lama menua dalam lumut usia Membuih hingga menutup pintu jendela jiwa Sedang waktu tak bisa berputar ditanganku meski hanya sedetik saja, dan tak mampu membelokkan sendiri nasibku ibu… Tapi aku slalu rindu warna warna dari rahim kasihmu, yang senantiasa menjadi bayangan doamu diantara daun daun yang memutih di kepalaku..