Pancasila itu Masih Menangis karya Abdul Muis Syam

Tengoklah, betapa tidak sedikit darah yang tertumpah dan mengalir,
Hanya untuk melahirkan dan mempertahankan Pancasila.
Renungkanlah, berapa banyak nyawa yang harus terkapar,
Dan berapa banyak ambisi yang saling menusuk
Demi mengalungkan Pancasila sebagai tameng di dada Sang Garuda.
Tapi kini, lihatlah wajah Pancasila kita!
Ketuhanan Yang Maha Esa:
Inilah keyakinan, juga keimanan
Sekaligus pengakuan kalbu
Yang terlahir dalam nurani Bangsaku
Tetapi, jahiliyah mulai menggerogoti
Yakni, di saat materialisme jadi kiblat penghidupan
Membuat rakyat pun banyak yang tersesat dan terjebak
Karena pemimpin-pemimpin kita lebih banyak mempertuhankan jabatan
Mereka tega menjadikan Tuhan yang Maha Esa sebagai “alat” komersialisasi”
Lihatlah, mereka ikut beribadah agar rakyat memilihnya jadi pemimpin!?
Dan lihatlah, mereka pun jadi pemimpin, tetapi bukan untuk rakyat
Mereka hanya berhasil jadi penguasa, tetapi tidak sukses sebagai pemimpin
Mereka tetap beribadah, tetapi maksiat jalan terus, dan korupsi tetap lancar
Sebab, mereka percaya bahwa saat ini adalah Keuangan yang “maha” kuasa
Dan masih banyak lagi….
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab:
Dari sinilah dimulai perjuangan
Siapa kamu… siapa saya pun makin nampak jelas
Gusur sana, gusur sini hingga ke jurang
Maka muncullah banyak preman, pengemis, PSK
Bahkan ada sedikit yang menjelma sebagai teroris bersenjata
Preman, pengemis, PSK dan teroris inilah yang terus serius dikejar
Seakan sumber kejahatan berasal dari mereka
Padahal, koruptorlah biang kemunculan mereka
Monopoli, keserakahan, juga persekongkolan pejabat membuat wajah keadilan jadi tersingkir
Sehingga kehalusan akhlak dan budi dipaksa untuk mulai bermain kasar
Lalu sadisme, anarkis, konflik SARA, dan kebrutalan pun sulit terhindarkan
Hak-hak asasi manusia cuma sekadar logo pembungkus rokok
Yakni habis manis sepa dibuang. Habis diisap, puntung pun dibuang
Dan masih banyak lagi….
Persatuan Indonesia:
Suku, Agama, Ras dan Adat sesungguhnya bukanlah masalah
Tapi kepentingan dan ambisi tak jarang memecah persatuan lewat partai politik
Gesek, gasak, gosok pun menjadi tontonan umum
Sumatera merasa dianak-tirikan
Jawa sepertinya dibanggakan
Sulawesi seakan hanya dikesampingkan
Kalimantan terasa cuma dimanfaatkan
Maluku seakan disepelekan
Papua/Irian merasa hanya ditindas dan diperas
GAM, RMS, OPM pun meneriakkan kemerdekaan
Sungguh…Ibu Pertiwi pun jadi menangis
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan:
Rakyat sejak dulu setia dan patuh dipimpin
Tapi sejak dulu juga telinga kebijaksanaan sudah tuli
Tangis dan jerit si miskin hanya menumpuk di meja musyawarah
Karena tak sedikit para wakil rakyat kita hanya lebih sibuk mencari hikmat sendiri-sendiri
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia:
Ini hanya menyegarkan telinga rakyat
Namun, kemiskinan dan penindasan terus membantai rakyat
Bantuan sosial tak jarang pilih kasih dan hanya jadi mantra para koruptor
Bantuan bencana saja bahkan tak sedikit tersedot ke dalam perut koruptor
Suara rakyat bahkan banyak yang diredam oleh para penjilat.
….Begitulah…! Mungkin gambar Pancasila kita kini hanya jadi penghias dinding.
Dan mungkin Pancasila kita saat ini hanya jadi simbol di jubah para nasionalis.
Wahai para pemimpin…
Selamatkan dan tunaikan Pancasila kita yang Sakti ini!!!
Jika tidak…, maka boleh jadi Pancasila kelak bakal jadi pengalas kaki kaum imperialis.

Bertemu Kala Letih Menghimpit Ita Friedrich

Semburat jingga menyelinap di antara kisi-kisi jendela gubuk kita
Ku terbangun saat hembusan nafasmu membelai dengan cinta
Sejuta bahagia mengurai indah dalam jiwa
Dan kian kuterlena dalam pelukan mesra penuh rasa

Ku tak kan berlari lagi tuk kesekian kali
Setelah letih menghimpit hati
Kembara asmara yang datang silih berganti
Tuk dapatkan sebuah kasih sejati
Namun semakin ku ingin menggapainya semakin ia menghindari

Kini penantian kita tlah berakhir dan berlalu
Dirimu datang dengan semua rindu
Kau yang penat menunggu di ujung temaram yang sendu
Hingga disuatu senja nan ceria kita bertemu memadu dua asa menjadi satu
Leonberg, 01.10.2013
Written by Ita Friedrich

Emak karya Alang Alang

Malam ajakku mengenang bayang dari wajah sayu yang mnyelinap diantara remang purnama Gerimis tlah jelmakan bayangannya teromabang ambaing dalam dingin udara, gigilnya menjalar hingga ke daun kepala Ini adalah ketololan yang lama ngendon di kepalaku, biang dari gelap yang menjalar liar,lebih pekat dari kopi, lebih hitam dari dosa palim kelam” demikian kata hatiku Lantas jernih embun menggumpal disudut mata, sempal menjadi tangis membelah sunyi jiwa
Dari kejauhan samudra jiwa, bibir pantai masih setia mengendus pasir letih lewat serpih serpih mata sedih yang mencaci nasibnya sendiri Gelombang anganan berlari lari kitari bukit bukit ditepi desa, pada bayangannya berguguran luka luka lama, mendebu kelam masa silam Dan terkulai di perut malam, menghitung tiap detik yang berlalu melumat waktu, pandangi sisa sisa hujan, yang hanyutkan kecewa hingga ke rahim samudra malam Hanyut hingga kedasranya yang paling biru, merengkuh hangat lentik jari ibu, rindu usapnya pungut segala luka
Luka yang bermula dari kesintingan hidup Luka yang lama menua dalam lumut usia Membuih hingga menutup pintu jendela jiwa Sedang waktu tak bisa berputar ditanganku meski hanya sedetik saja, dan tak mampu membelokkan sendiri nasibku ibu… Tapi aku slalu rindu warna warna dari rahim kasihmu, yang senantiasa menjadi bayangan doamu diantara daun daun yang memutih di kepalaku..

Pada Ilalang yang Menari Nandar Dinata

Pada ilalang yang sedang menari
Di hamparan kebun yang aku lewati
Tidak sebegitu jauh disini
Tempatku menantimu kembali
***
Pada ilalang yang sedang menari
Lincah gemulainya melambai kenari
Berterbangan menggoda kesana kemari
Siulannya tersungging merdu dibawah mentari
***
Pada ilalang yang sedang bernyayi
Goyang lembut, teratur ke kanan dan kekiri
Seakan ada alunan musik yang mengiringi
Setiap lekuk jeda yang tersuguhi
Mengajak pada setiap yang melintas untuk turut menari
Pun bernyanyi dalam senandung tembang hati
***
Pada ilalang yang sedang menari
Semakin indah dengan lantunan melodi
Pun larutku bersenandung lirih menyertai
Berdawai bersama senyum cerah mentari
***
Pada ilalang yang menari
Pernah kita bersenandung bersamanya kemudian bernyanyi
Bercanda ria menatap eloknya kenari
Terbang melayang lembut mengintari
Mengukir panorama indah menawan hati
***
Pada ilalang yang sedang menari
Tanyaku padanya kapan terulang kembali
Saat kita terpesona akan indahnya yang kita nikmati
Bukan hanya untuk sekali,.. Sungguh bukan hanya sekali
Namun senantiasa sama, dari dulu kini dan sampai nanti…
[ ND ]

Menuju Mata Air karya Yudhi Hendro

Langkah demi langkah kuayunkan
Melewati jalan setapak di tengah hutan
Menyusuri rimbunnya pepohonan
Mendaki tebing curam
Dan meniti bibir jurang nan dalam

Meski butiran peluh jatuh bercucuran
Desahan nafas tak lagi beraturan
Dan langkah kaki pun kian perlahan
Perjalanan tetap harus dilanjutkan
Di saat raga terasa melayang
Dan jiwa mengharap pertolongan
Tak lupa doa kupanjatkan
Karena tanpa uluran tangan Tuhan
Diriku tak kan pernah tiba di tujuan
Juga merasakan
Mata air yang penuh kejernihan

Jagorawi karya Haridewa

:lima tigapuluh,
start
sentul selatan
enam pagi
masuk tol
kilometer tigapuluh
kecepatan seratusduapuluh
limabelas menit bergerak
kemudian stuck
kilometer tigabelas
hati nan pagi mulai panas
berang memacu pedal gas
bergegas
tidak manusiawi!
sudah bayar
kok harus antri
:tujuh tigapuluh
masuk jalur cepat
berlomba dengan metro mini dan sedan
menapaki batasan-batasan hakiki
sekedar tak saling senggol
dahi mulai berpeluh
kesadaran pun luluh
geligi terdengar berderak
meneriakkan kata yang pekak
suara parau namun wajah pias
denyarkan rintih yang tak lepas
hingarkan detak kedirian yang nyaris tuntas
tanpa bekas
menggigil harga diri ini
menyadari keinginan yang kian lebar
dengungkan apriori
…..
(180906)

Semangkuk Cerita Sore Rikky Hastri

sesekali aku mendengar suaramu, yang lebih jernih dari biasanya. kala itu, air masih melekat diujung kemuning, angin masih menyisakan dingin karena hujan,  dan kau merubah rumitnya jarak menjadi begitu sederhana. kau tahu, kata rindu seperti sembunyi dalam ramah bibirmu, yang kini tercampur lewat bulatan-bulatan hangatnya ronde, dan gelitik manis kacang tanah. “mau aku pesankan semangkuk?” ajakku
hari ini, senja seperti surga kecil yang pernah diceritakan Ibu.”suatu saat nanti, kau akan dipertemukan oleh sebuah jawaban dari doaku”. karena bayang lembutmu terus bersamaku, kursi dan meja kini cemburu padamu. cemburu pada benang waktu yang menyatukan kita. “baiklah, nanti aku hubungi kau lagi”. benar, seharusnya aku bisa tersenyum lebih lebar sekarang
kata seorang kawan: senja yg mendung, aroma tanah basah sisa hujan barusan, semangkok ronde dan seseorang di ujung sana…

Para Penulis .................karya Astokodatu

Negriku .
Angin dan musim masih seperti hari kemarin
Malam tadi dan terbitnya pagi mentari tiada ada yang lain
PLN lampu dan keyboardku masih berjalan seperti biasa……
Tetapi gempar dunia maya penuh komentar
Negriku mengerikan membuat penulis miris
Penuh tangis tiasa habis dalam selembar layar
Kegalauan dan keheranan keterkejutan dan kemarahan
Ternganga mulut bukan lantaran keriangan
Kegundahan demi jebretnya gawang kebobolan
Pertahanan benteng hokum dan keadilan
Kemasukan koruptor diujung tepian harapan
Negriku……..
Seribu satu penulis miris,
Seribu satu Kompasianer bersuara pedas
Seribu satu jurnalis menganalisis
Belum satu kubaca proposal pencerahan
Belum satu kudapat usulan pemecahan
Juga dari saya penulis abal abal
Tiap kali Cuma membual
Heran, Miris, Luar Biasa, Bukan main, Aktual
Oallah, gombal.
(untuk diriku sendiri)

Perjalanan Kehidupanku karya Muhammaad Yusuf Dzaky Maulana

Semua ada waktunya
Hidup ini tak selamanya berjalan seperti apa yang kita inginkan…
Menjalankan hidup ini dengan penuh kesabaran,kejujuran,kesetiaan,dan penuh keimanan
Tuhan kita tidak pernah memberi cobaan diluar batas kemampuan kita..
Ada hidup yang kita tak pernah tau bagaimana tuhan merencanakannya
Kita percya tuhan pasti dengar permohonan kita padannya..
Jangan sia-siakan dan menyesal apa yang telah diberi tuhan pada kita.
Jangan pernah membeda-bedakan miskin atau kaya karena kita semua sama.
Dibalik kekurangan kita pasti ada kelebihan yang tak pernah kita sadari.
Kita layak bersyukur pada tuhan yang telah diciptakan kita tak hidup didunia ini.
Banyak manusia yang tidak pernah bersyukur dengan apa yang ia miliki
Semua ada waktunya dalam hidup ini..jangan pernah menyerah kita pasti punya mimpi tuk jadi yang terbaik dengan belajar,bersabar,bersyukur.
Kita punya masa depan yang lebih baik selama kita berusaha terus…

Hikmah Semua ini?? karya Muhammad Basis Agustav

Akhirnya, malam ini.
Sebuah cambukan dari yang maha kuasa.
Pun aku terima cambukan itu.
Sebuah penyesalan. . .
Yang akhirnya aku harus berkaca pada diriku ini.
Entahlah. . . .
Seorang perempuan telah aku sia-siakan.
Ya, dialah mantan kekasihku.
Semenjak aku kehilangan dia, , ,
aku bak dihajar oleh ribuan arus gelombang.
Lalu, intinya ??
Malam ini, aku keluarkan semua perasaanku kpd seseorang.
Dia bernama Ananda.
Orgnya baik, pintar, imut dan lucu.
Tapi, aku pun jatuh cinta kepadanya.
Ketika aku keluarkan semua perasaanku kepadanya,
tak disangka, dia sudah ada yang punya.
Ya Allah, apakah ini cambukkan buatku ??
Padahal aku berharap agar aku bisa move on.
Tapi, lenyaplah perasaanku semuanya.
Tapi, apa hubungannya dgn mantan ??
Dia bisa move on, kenapa aku tidak bisa ??
Tapi, , , ,
sudah jauh dari harapan.
Ya Allah, ada apa dgn diriku ??
Apakah ada yang salah ?? :’(

Aku, Kamu dan Mereka Adalah Kita karya Amiludin Seda

Takkan Terucap Kata Perpisahan
Dikala Pertemuan Tak Kita Rencanakan
Dimana Waktu Telah Mempertemukan Kita
Dalam Sebuah Ikatan Persaudaraan
Hingga Canda Tawa, Ingas Tangis dan Derita Bahagia
Menjadi Warna yang Berbeda
Mewarnai Langkah Kita
Aku, Kamu dan Mereka Adalah Kita
Terangkai dalam satu kalimat
Bernaung Dalam Satu Atap
Berselimutkan Harapan Dan Angan Akan Keberhasilan
Kini Kita Bukan Lagi Aku, Kamu Dan Mereka
Melainkan Kamu dan Mereka adalah Kalian
Sementara Aku adalah Aku
Dengan Harapan Kembali Menjadi Kita
Kita yang Berbeda
Kita Yang Telah Menggapai Keberhasilan
Akan Angan dan Harapan
Selamat Berjuang Kalian

Puisi Menolak Korupsi Sumbangsih Penyair untuk Negeri

oleh Rg Bagus Warsono (Agus Warsono)
Sebuah pertanyaan kenapa puisinya yang menolak korupsi tidak penyairnya? Jika ini sebuah gerakan para penyair kenapa bukan penyair yang harus di depan? Pertanyaan di atas tidaklah harus disamakan dengan profesi lain. Sebab menurut sejarah, lebih berani tulisannya ketimbang orangnya. Lebih tajam pena-nya ketimbang lidahnya, lebik kritis kalimatnya ketimbang pendapatnya. Oleh karena itu para penyair gunakan produknya sebagai senjata untuk melawan korupsi.
Lebih dari itu sebetulnya produk sastra sangat erat dengan penulisnya. Undang-undang hak cipta begitu memberi kekuatan yang tak terpisahkan antara penulis dan karyanya. Jadi sebetulnya produk sastra tersirat dibelakangnya sosok penulisnya. Jika demikian jelas pesan yang dituangkan dalam karya sastra sebetulnya adalah hasil pemikiran penulisnya.Puisi menolak korupsi ini otomatis penyair yang mencipta puisi itu juga menolak korupsi. 
Dalam diri hati manusia ada sisi baik dan sisi buruk. Siap orang yang waras menginginkan kehidupan yang baik. Sisi buruk yang ada hanyalah pembatas utuk tidak melakukannya. Sisi baik dan buruk slalu seiring pada diri manusia yang memiliki nafsu. Ini tergantung neracanya. Karena itu sisi buruk manusia perlu diisi dengan agama, aturan, pendidikan dan norma hidup. Sehingga sisi buruk itu terbelenggu dan tidak akan keluar dari nafsu manusia.
Puisi sebagai karya sastra memiliki nilai berbagai macam sentuhan hati. sebab puisi yang diciptakan oleh para penyair terkandung menitipkan pesan-pesan kebaikan yang beraneka. Ahlak, budi pekerti, budaya luhur, norma adat, peraturan, pantangan dan sebagainya terdapat dalam puisi. Hampir tiap puisi yang dibuat terkandung unsur intrinsik pesan-pesan tersebut dan intrinsik inklusif dalam Puisi Menolak Korupsi adalah masalah korupsi. 
Dalam kurun hapir setengah abad perjalanan negeri ini (sejak 1966) perjalanan sastrawan kita hanya membuat karya yang bagus sehingga sulit dibuat angkatan.
Meskipun gelombang reformasi mengganti orde baru, karya satra berikut sastrawannya tidak mengiringi perubahan bangsa ini. Hal demikian dikarenakan reformasi yang sampai sekarang masih berjalan tersendat-sendat. 
Bolehlah pada kritikus sastra atau sastrawan membuat angkatan kesusastraan, dengan alasan yang berbeda-beda, Itu sah-sah saja. Angkatan Reformasi, Angkatan 2000 tak menjadi maslah sejauh referensinya dapat diterima. 
Masalah korupsi bukankah sudah ada sejak negara ini berdiri? Namun sebelumnya hal korupsi belum membudaya seperti sekarang ini. Masalah korupsi hampir terjadi di setiap pelosok negeri. Pelakunya dari pangkat terendah sampai pucuk pimpinan, dari pegawai rendahan sampai mentri, dari pejabat tingkat RT sampai Presiden dan beraneka profesi yang melakukannya. Wabahnya bak penyakit menular yang juga menyerang mantri pembasmi penyakit itu. 
Berangkat dari merajalelanya masalah korupsi yang sudah menasional ini bagaikan sebuah budaya baru yang dilakukan masyarakat, para penyair merasa prihatin melihat kejadian wabah korupsi yang terjadi di mana-mana ini. 
Dunia menyoroti kita sebagai salah satu negeri terkorup. Negara-negara donatur sudah geram melihat tingkah pejabat kita yang korup. Media bingung memberitakan kasus korupsi yang mana yang harus di beritakan pagi hari, karena saking banyaknya kasus korupsi yang masuk di meja redaksi. Alim ulama tak henti-henti menggemborkan utuk menyelamatkan negeri ini. 
Sesekali tokoh muncul anti korupsi hanya untuk meraih suara, sudah itu ia juga termasuk dan melakukan korupsi. Lalu yang berteriak lantang membasmi korupsi kemuadian terikan itu menjadi lagu nostalgia yang membikin orang kantuk. Pendek kata hanya isapan jempol semata.
Disinilah penyair dengan berbagai keberadaannya yang sama sekali tidak ada perhatian dari pemerintah, bahkan boleh jadi pada komunitasnya yang ‘terpinggirkan’ dan mungkin ‘terbuang’ ikut memberikan sumbangsih dalam menyelamatkan negeri ini dari acaman bahaya korupsi. Melalui karya Puisi Menolak Korupsi mereka suguhkan untuk khalayak masyarakat Indonesia untuk dapat memberikaa apresiasi terhadap karyanya. Diharapkan melalui karya ini dapat mengajak masyarakat untuk menolak korupsi di manapun tempat. 
Kelihatannya seperti tak ada artinya puisi menolak korupsi atau penyair menolak korupsi. Penagak hukup yang memiliki tanggung jawab pemberantasan korupsi yang ada di Indonesia juga susah menghadapi masalah korupsi ini, apalagi penyair yang tak punya apa-apa. Ditilik dari tindakan mungkin belum ada arti, namun melalui puisi menolak korupsi yang dibaca jutaan manusia Indonesia akan dapat menyentuh hati. Ia tidak saja sebagai penyejuk atau siraman air untuk otak manusia, tatapi telah memberikan wacana mendasar bahwa pemyair Indonesia telah berbuat untuk negerinya , sebagai sumbangsih karya untuk Tanah Air tercinta.
(rg bagus warsono/agus warsono, 4-10-13)

Elegi malam karya Suwartomo

Malam pun tlah memanggil
dan…
biarkan sepi selimuti diri
bahkan anginpun enggan menghampiri
masih  adakah tersisa mimpi
sedang ku belum lagi terlelap
walau sekujur ragaku
dipeluk kelam
Beribu kunang datang tuk  coba memberi  terang
pada malam yang segera kan menghilang
akhiri sebuah perjalanan
melelahkan
adakah hal terlupakan
bekal yang mesti kubawa
temani  keabadian
untuk-Nya
Jakarta, 05 Oktober 2013

“Lokomotif Cinta” karya Wandi Penyair Jalanan

“Lokomotif Cinta”
bak seorang masinis aku berdiri menunggangnya.
mengikuti lekuk-lekuk besi aku tak henti memacunya.
ku sambung gerbong demi gerbong yang berpenumpangkan harap dengan seutas tali dari tirai indahnya rasa.
sesekali ku bunyikan terompet hati yang kurangkai lewat kata,pertanda aku sedang melanglang buana mencari cinta.
kepulan asap diatas lokomotif uap terasa hangat diudara,sehangat perjalananku menempuh cerita hidup yang teramat sangat bermakna.
minggir kawan jangan halangi kerindangan jalanku membawa harap untuk bercinta.
lewat lokomotif cinta terus kupacu pada lekuk besi diatas tanah.
untuk ku tambatkan kehati seorang dara yang ku cinta,sebegai penyematan kembali ku kepulkan asap pertanda aku tlah menemukannya.
~ wandi ~

Buih Cinta Kebo Kicak Karang Kejambon karya Anjrah Lelono Broto

Buih Cinta Kebo Kicak Karang Kejambon
— Saduran Bebas Folklor Asal-Usul Kota Jombang
… Jombang, ijo dan abang
sebait warna yang terbelah …
Jaka Samar namaku, Raja Majapahit konon ayahku
berguru dan berguru urat nadiku
ilmu yang kuperam-kuketam
ternyata jumput gelap-malam
di hatiku
kepala kerbau bertenggar di leher
Arum Sari, ibuku, mengutukku
saat kepal juga sapuan tendang teter
adikku sendiri, Jaka Suwandi
Kebo Kicak Karang Kejambon lalu aku dipanggil
… Jombang, ijo dan abang
sebait warna yang terbelah …
Pandan Sari yang ayu, Pandan Sari
yang menawan hati
cintaku tidak jauh di mega-mega
cintaku bersemayam di pijar mata
Jaka Samar ingin meminangmu
Oh, Kidang Tracak Kencana maharmu, Pandan Sari
haiyah, siapa kau Surantanu!?!
apa Pandan Sari juga menjadi tuju alumu?!?
siapkah kau menjemput ajal di tangan Jaka Samar?!!
… Jombang, ijo dan abang
sebait warna yang terbelah …
Tebuireng, Balong Biru, Sumber Nangka, Bantengan, juga
Karang Jambu menjadi saksi bisu
betapa kematian salah satu jadi tangga
ke ranjang pengantin Pandan Sari yang merah
dari hijaunya cintaku,
cinta Jaka Samar ya Kebo Kicak Karang Kejambon
hingga kini
ranjang pengantin tiada terjamah
karena Surantanu dan aku menatap langit berkalang tanah
mati demi
buih cinta yang indah
buih cinta yang bertuah
Jombang, Januari 2011

BIODATA PENULIS

Nama  :  Anjrah Lelono Broto
Lahir  :  Jombang, 03 Juli 1979
Alamat : Dsn Jarak, Ds. Jarakkulon No.08 RT 10 RW II, Kec. Jogoroto, Kabupaten Jombang (61485)
Kegiatan :
-. menulis esai, cerpen, serta puisi di sejumlah media masa lokal  dan nasional (baik berbahasa Indonesia maupun berbahasa Jawa), seperti SURYA, Surabaya Pagi, Harian Umum Pelita, Banjarmasin Post, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Wawasan, Harian Bhirawa, Radar Surabaya, Radar Mojokerto, Kabar Indonesia, Jaya Baya, Panjebar Semangat, Jurnal Sastra dan Budaya JOMBANGANA, dll.
-. Menjadi penggagas Lembaga Baca-Tulis Indonesia (LBTI), lembaga pendidikan nir laba yang berbasis peserta didik.
-.  Sekarang aktif berkesenian dan berkebudayaan di Teater Kopi Hitam Indonesia, Majelis Sastra Gubsur, dan menjabat sebagai Bendahara Komite Sastra Dewan Kesenian Jombang (DeKaJo),
KARYA-KARYA
Pribadi :
  1. Syukuran (kumpulan naskah monolog, 1998).

  2. Lelaki Terbuang (saduran naskah teater Perampok, 1998).

  3. Blossom In The Wind (saduran naskah teater, 1999).

  4. Melati di Sanggul Mama (antologi puisi, 2001)

  5. Lilih (antologi geguritan, 2004).

  6. Negeri Di Angan (antologi esay, 2008).

  7. Esem Ligan Randha Jombang (antologi geguritan, 2010).
Bersama :
  1. PESTA PENYAIR, Antologi Puisi Jatim 2010, terbitan Dewan Kesenian Jawa Timur.

  2. PASEWAKAN, Antologi Cerkak dan Geguritan, terbitan Kongres Sastra Jawa III/PSJB.

7 Sajak Sesaat Lewat karya Zoel Z'anwar

1. sesaat menulis jejak
sesaat kami tulis jejak dari dipan bambu
asam masih meniris di belanga
saat empedu masih berasa
dan gelas sudah kosong
sesaat kutulis jejak di pasir
sesaat di bawah panji pucat depan gubug.
2. sesaat mencabut rumput
sesaat, rumput-rumput ini menarikan lagu gendang selamat jalan.
sudah lebih tinggi tinimbang pucuk cabe
mengakar di tanah paling gembur
kami mencabutnya mudah saja
semudah bijinya menjadi rumput baru
3. sesaat jalan ke kota
perjalanan sesingkat umur pagi
sesaat tak seperti panjangnya lama
kering air mata di pipi gemuk tanah ini.
sesaat tiba di kota,
orang-orang mencari dan menyerahkan muka
di muka lembaran pengharam muka.
4. sesaat memandang kota
sesaat ada yang gila
menghitung jejak alas kaki yang hilang
seramai sol di pabrik-pabrik selop
terlindas jejak roda-roda
lalu hilang bersama air hujan di selokan
sesaat adakah yang berburu kuntum saga
di antara langkah yang terburu-buru?
sesaat ada aku
5. sesaat di atas batu sungai
sungai ini menghanyutkan lumpur
dosa-dosa kental seringan daun gugur
sungai ini meninggalkan batu besar
di atasnya kami duduk jadi pendoa
6. sesaat berdoa
sesaat sujud kami dalam kata
terganggu suara cicak di langit-langit kamar doa
terbahak, dia kencingi buku-buku doa kami
kami marah,
pada cicak
lalu pada tuhan karena mencipta cicak.
7. sesaat tentang pulang
kepulangan kami adalah menunggu surat terakhir
yang datang dibawa pencuri
detak detik di jam bulat di atas almari
kepulangan kami,
menunggu ukir jejak menjadi hantu menggentayang
di pena yang kami keringkan tintanya di batu nisan
kepulangan kami,
adalah ketika kami pulang dalam tawa malam.