Tengoklah, betapa tidak sedikit darah yang tertumpah dan mengalir,
Hanya untuk melahirkan dan mempertahankan Pancasila.
Hanya untuk melahirkan dan mempertahankan Pancasila.
Renungkanlah, berapa banyak nyawa yang harus terkapar,
Dan berapa banyak ambisi yang saling menusuk
Demi mengalungkan Pancasila sebagai tameng di dada Sang Garuda.
Dan berapa banyak ambisi yang saling menusuk
Demi mengalungkan Pancasila sebagai tameng di dada Sang Garuda.
Tapi kini, lihatlah wajah Pancasila kita!
Ketuhanan Yang Maha Esa:
Inilah keyakinan, juga keimanan
Sekaligus pengakuan kalbu
Yang terlahir dalam nurani Bangsaku
Tetapi, jahiliyah mulai menggerogoti
Yakni, di saat materialisme jadi kiblat penghidupan
Membuat rakyat pun banyak yang tersesat dan terjebak
Karena pemimpin-pemimpin kita lebih banyak mempertuhankan jabatan
Mereka tega menjadikan Tuhan yang Maha Esa sebagai “alat” komersialisasi”
Lihatlah, mereka ikut beribadah agar rakyat memilihnya jadi pemimpin!?
Dan lihatlah, mereka pun jadi pemimpin, tetapi bukan untuk rakyat
Mereka hanya berhasil jadi penguasa, tetapi tidak sukses sebagai pemimpin
Mereka tetap beribadah, tetapi maksiat jalan terus, dan korupsi tetap lancar
Sebab, mereka percaya bahwa saat ini adalah Keuangan yang “maha” kuasa
Dan masih banyak lagi….
Inilah keyakinan, juga keimanan
Sekaligus pengakuan kalbu
Yang terlahir dalam nurani Bangsaku
Tetapi, jahiliyah mulai menggerogoti
Yakni, di saat materialisme jadi kiblat penghidupan
Membuat rakyat pun banyak yang tersesat dan terjebak
Karena pemimpin-pemimpin kita lebih banyak mempertuhankan jabatan
Mereka tega menjadikan Tuhan yang Maha Esa sebagai “alat” komersialisasi”
Lihatlah, mereka ikut beribadah agar rakyat memilihnya jadi pemimpin!?
Dan lihatlah, mereka pun jadi pemimpin, tetapi bukan untuk rakyat
Mereka hanya berhasil jadi penguasa, tetapi tidak sukses sebagai pemimpin
Mereka tetap beribadah, tetapi maksiat jalan terus, dan korupsi tetap lancar
Sebab, mereka percaya bahwa saat ini adalah Keuangan yang “maha” kuasa
Dan masih banyak lagi….
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab:
Dari sinilah dimulai perjuangan
Siapa kamu… siapa saya pun makin nampak jelas
Gusur sana, gusur sini hingga ke jurang
Maka muncullah banyak preman, pengemis, PSK
Bahkan ada sedikit yang menjelma sebagai teroris bersenjata
Preman, pengemis, PSK dan teroris inilah yang terus serius dikejar
Seakan sumber kejahatan berasal dari mereka
Padahal, koruptorlah biang kemunculan mereka
Monopoli, keserakahan, juga persekongkolan pejabat membuat wajah keadilan jadi tersingkir
Sehingga kehalusan akhlak dan budi dipaksa untuk mulai bermain kasar
Lalu sadisme, anarkis, konflik SARA, dan kebrutalan pun sulit terhindarkan
Hak-hak asasi manusia cuma sekadar logo pembungkus rokok
Yakni habis manis sepa dibuang. Habis diisap, puntung pun dibuang
Dan masih banyak lagi….
Dari sinilah dimulai perjuangan
Siapa kamu… siapa saya pun makin nampak jelas
Gusur sana, gusur sini hingga ke jurang
Maka muncullah banyak preman, pengemis, PSK
Bahkan ada sedikit yang menjelma sebagai teroris bersenjata
Preman, pengemis, PSK dan teroris inilah yang terus serius dikejar
Seakan sumber kejahatan berasal dari mereka
Padahal, koruptorlah biang kemunculan mereka
Monopoli, keserakahan, juga persekongkolan pejabat membuat wajah keadilan jadi tersingkir
Sehingga kehalusan akhlak dan budi dipaksa untuk mulai bermain kasar
Lalu sadisme, anarkis, konflik SARA, dan kebrutalan pun sulit terhindarkan
Hak-hak asasi manusia cuma sekadar logo pembungkus rokok
Yakni habis manis sepa dibuang. Habis diisap, puntung pun dibuang
Dan masih banyak lagi….
Persatuan Indonesia:
Suku, Agama, Ras dan Adat sesungguhnya bukanlah masalah
Tapi kepentingan dan ambisi tak jarang memecah persatuan lewat partai politik
Gesek, gasak, gosok pun menjadi tontonan umum
Sumatera merasa dianak-tirikan
Jawa sepertinya dibanggakan
Sulawesi seakan hanya dikesampingkan
Kalimantan terasa cuma dimanfaatkan
Maluku seakan disepelekan
Papua/Irian merasa hanya ditindas dan diperas
GAM, RMS, OPM pun meneriakkan kemerdekaan
Sungguh…Ibu Pertiwi pun jadi menangis
Suku, Agama, Ras dan Adat sesungguhnya bukanlah masalah
Tapi kepentingan dan ambisi tak jarang memecah persatuan lewat partai politik
Gesek, gasak, gosok pun menjadi tontonan umum
Sumatera merasa dianak-tirikan
Jawa sepertinya dibanggakan
Sulawesi seakan hanya dikesampingkan
Kalimantan terasa cuma dimanfaatkan
Maluku seakan disepelekan
Papua/Irian merasa hanya ditindas dan diperas
GAM, RMS, OPM pun meneriakkan kemerdekaan
Sungguh…Ibu Pertiwi pun jadi menangis
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan:
Rakyat sejak dulu setia dan patuh dipimpin
Tapi sejak dulu juga telinga kebijaksanaan sudah tuli
Tangis dan jerit si miskin hanya menumpuk di meja musyawarah
Karena tak sedikit para wakil rakyat kita hanya lebih sibuk mencari hikmat sendiri-sendiri
Rakyat sejak dulu setia dan patuh dipimpin
Tapi sejak dulu juga telinga kebijaksanaan sudah tuli
Tangis dan jerit si miskin hanya menumpuk di meja musyawarah
Karena tak sedikit para wakil rakyat kita hanya lebih sibuk mencari hikmat sendiri-sendiri
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia:
Ini hanya menyegarkan telinga rakyat
Namun, kemiskinan dan penindasan terus membantai rakyat
Bantuan sosial tak jarang pilih kasih dan hanya jadi mantra para koruptor
Bantuan bencana saja bahkan tak sedikit tersedot ke dalam perut koruptor
Suara rakyat bahkan banyak yang diredam oleh para penjilat.
Ini hanya menyegarkan telinga rakyat
Namun, kemiskinan dan penindasan terus membantai rakyat
Bantuan sosial tak jarang pilih kasih dan hanya jadi mantra para koruptor
Bantuan bencana saja bahkan tak sedikit tersedot ke dalam perut koruptor
Suara rakyat bahkan banyak yang diredam oleh para penjilat.
….Begitulah…! Mungkin gambar Pancasila kita kini hanya jadi penghias dinding.
Dan mungkin Pancasila kita saat ini hanya jadi simbol di jubah para nasionalis.
Dan mungkin Pancasila kita saat ini hanya jadi simbol di jubah para nasionalis.
Wahai para pemimpin…
Selamatkan dan tunaikan Pancasila kita yang Sakti ini!!!
Jika tidak…, maka boleh jadi Pancasila kelak bakal jadi pengalas kaki kaum imperialis.
Selamatkan dan tunaikan Pancasila kita yang Sakti ini!!!
Jika tidak…, maka boleh jadi Pancasila kelak bakal jadi pengalas kaki kaum imperialis.