Labuh; Sang Mahadewa Cinta

Tak sanggup kuberlabuh di belantara jelita sang kartika

karena cahaya emasnya niscaya sirna tatkala fajar tiba

tak mungkin jua kubersandar pada benderang baskara

yang segera padam pada saat datangnya senja

mustahil pula kumerapat di birunya petala cakrawala

ia mesti pupus dilahap mendung dan malam gulita

namun kuharus terus berburu tambatan biduk asmara


Rabbi…

anugrahi hamba sebuah pelabuhan hati nan abadi

ekspedisi cinta ini harus berakhir sampai disini

seiring merapuhnya tubuh yang tak lagi berenergi

sendi-sendi bahtera ini pun tak bisa diharapkan lagi

‘tuk menghadapi kian dahsyatnya ombak dan badai

di samudera kasih yang kerap digoncang tsunami


Haruskah kubersandar pada senandung sendu sang bayu

pada malam bisu yang melulu mampu memicu rindu

pada lolong anjing-anjing kasmaran penyayat kalbu

pada kamar senyap yang sombong, tuli, dan gagu

pada ranjang tembem, ganjen, patuh, namun dungu

pada bantal-bantal erotis, genit, gemulai, pemancing nafsu

kutak tahu… oh, Sang Penguasa Jodoh, sungguh kutak tahu


Jika memang tiada lagi tempat layak untuk berlabuh

pasti inilah saat terbaik membuang sauh

di mahabandar-Mu yang amat bersuluh dan teduh

oh, Sang Maha Dermaga tempatku bersembah simpuh

biarkan ruh dan seluruh tubuh teguh bertawajuh

dengan tasamuh dan bersungguh-sungguh

izinkan hamba bertelimpuh mengunduh

asih, asah, asuh-Mu yang amat kubutuh

‘tuk memperkukuh jiwa rapuh penuh telutuh

sebelum Izrail memukul tabuh


Bumi Allah, 27 September 2014